Minggu, 12 Januari 2025

CERPEN TRAGEDI III

PESAN ABAH

 

Kelak akan selalu kuingat. Pagi itu, ketika sinar matahari terasa begitu hangat, ketika desir angin khas musim kemarau seolah mampu menghadirkan kesejukan tersendiri bagi setiap mahluk, dan ketika suara kicau burung bersautan di ranting-ranting ketapang yang ada di depan dan di samping rumah nenek, perasaanku justru kian tak menentu. Langkahku gontai ketika aku diminta masuk ke ruang keluarga rumah nenek, tempat abah dibaringkan sepulang dari rumah sakit setelah dokter memberi vonis bahwa jantung abah yang kekurangan oksigen, tak akan lagi mampu bertahan. Dokter juga berkata, paru-paru abah yang bertabir, tak kan lagi bisa bekerja sebagaimana mestinya. Tabir itu berasal dari asap yang terhirup dari hari ke hari, minggu ke minggu, bahkan bulan ke bulan. Karena vonis itulah, abah ingin mengembuskan napas terakhir di rumah nenek, rumah yang menjadi tempat lahir abah puluhan tahun silam.

Di ruang tengah itu, sekilas kulihat kedua julak-ku berdiri di samping balai, tempat abah dibaringkan. Semuanya tertunduk dan terisak. Di ujung balai, tepat di samping kepala abah, tampak mamak dan nenek sedang berusaha memandu abah mengucapkan kalimat takbir dan syahadat. Sementara abah yang terbaring di atas balai sederhana, balai yang biasa dipakai untuk menonton TV, hanya mampu menggetar-getarkan kedua bibirnya dengan pandangan mata yang sepertinya kosong. Itulah fragmen yang membuat hatiku merintih, “Begitukah rupa orang yang akan meninggal?”

Ah, selamanya tak kan mungkin kulupa. Dengan tubuh bergetar, pagi itu aku pun berusaha untuk meminta maaf pada abah sebelum ia benar-benar pergi. Ingin sekali lisanku berucap, memohon maaf atas segala tingkah nakal yang pernah kuperbuat. Ingin sekali bibirku yang terkatup, bisa mengungkapkan sebaris kata-kata penyesalan atas berbagai kekurangajaran yang pernah kulakukan. Namun setelah meraih tangan abah yang mulai terasa dingin, tak ada sepatah kata pun yang mampu kuucap. Lidahku terasa kelu. Bibirku hanya mampu bergetar karena terus menahan tangis. Aku tak kuasa menyaksikan pemandangan itu, detik-detik yang mungkin akan menjadi akhir dari kehidupan seorang manusia. Dan yang membuat batinku begitu terhenyak, manusia itu tak lain adalah orang tuaku sendiri, sosok nomor satu yang paling kubanggakan dalam hidupku.

Maka, detik demi detik itu pun akan terekam jelas dalam benakku. Dengan terus berusaha menahan isak tangis, kutempelkan keningku di tangan abah dengan hati yang kian merintih, “Abah, maafkan aku!” Ya, itulah sebaris kalimat yang benar-benar keluar dari hatiku meski tak mampu terucap. Karena sungguh, tak mampu lagi bagiku melihat rupa abah yang sedang berjuang menghadapi saat-saat terakhir dalam hidupnya, sekarat. Sesegera mungkin aku pun berusaha untuk berdiri. Dengan air mata yang kian berlinang, kulangkahkan kakiku yang kian bergetar, kembali menuju ke ruang tamu rumah nenek.

Entahlah. Sekeluar aku dari ruang itu, angin yang sebenarnya berembus keluar masuk dari jendela ruang tamu rumah nenek, seketika seolah berhenti. Suara para kerabat dan tetangga nenek yang melantunkan ayat-ayat suci Al Quran, tiba-tiba seperti tak lagi dapat kudengar. Kedua kaki yang semula masih agak kuat menopang berat badanku, seakan menjadi nyata tak bertulang. Tubuhku benar-benar terasa lemas. Namun di tengah kesadaranku yang kian melemah, aku masih bisa merasakan ada seseorang yang menyangga tubuhku. Seseorang yang kemudian kukenali sebagai acil, memapahku hingga aku merasa tubuhku terduduk di atas sofa ruang tamu rumah nenek.

Sungguh, kenangan pagi itu tak kan pernah bisa sirna. Berulang kali acil membisiki telingaku, menyuruhku ber-istighfar, berserah diri, dan berusaha menerima takdir dengan ikhlas. Namun setelah itu, sebelum aku benar-benar mampu berucap seperti yang ia contohkan, aku merasa dunia kala itu begitu gelap. Napasku seperti tercekat. Aku tak sadarkan diri.

¯¯¯

 

Kelak akan selalu bersemayam dalam benak. Di luar alam sadarku, aku seperti berada di rumahku, rumah yang dibangun tahap demi tahap dari gaji abah sebagai guru di sekolah dasar pinggiran Kota Palangka, Kalimantan Tengah. Ya, sejak lulus kuliah, abah memang merantau dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Tengah untuk mencari peluang menjadi pegawai negeri sipil di kota yang kini bersahabat dengan asap. Padahal tertulis jelas dalam sejarah, kota kelahiranku itu pernah digagas oleh presiden pertama negeri ini menjadi ibu kota negara, menggantikan Jakarta yang penataan kotanya kurang terencana. Namun kini, kotaku yang secara geografis memang berada di tengah-tengah wilayah NKRI itu seperti nyata terabaikan.

Setelah rencana abah tercapai, abah lalu menikah dengan mamak atas saran nenek yang ingin menjadikan mamak sebagai bagian dari keluarga. Kala itu, mamak yang yatim piatu, bekerja membantu nenek berjualan nasi kuning. Nenek merasa nyaman dengan mamak yang pekerja keras, namun di sisi lain berperangai lembut. Secara fisik, meski tidak begitu cantik, mamak memiliki wajah teduh dengan senyum yang menenangkan. Karena itulah, abah langsung mengiyakan saran nenek.

Seiring perjalanan waktu, ikatan batin abah dan mamak pun kurasa makin kuat. Semua aku tahu dari abah yang kerap menyelipi wejangan hidup dari cerita kehidupan nyata abah dan mamak. Abah kerap tak merasa sungkan bermanja pada mamak di depan aku dan ading. Begitu pun mamak, meski terkesan lebih pandai menutupi perasaan, mamak jelas selalu menomorsatukan abah dalam hal kebutuhan. Semua itu mamak lakukan bukan sebatas bentuk penghormatan kepada seorang suami. Lebih dari itu, cintalah yang mendasari mamak dalam melayani abah.

Dengan cinta itu pulalah aku tumbuh mengarungi hidup. Meski tanpa harta melimpah, aku bisa merasa bahagia menikmati hidupku bersama keluargaku. Hingga pada bulan kelima musim kemarau tahun ini, ketika asap mulai menyelimuti seluruh wilayah Kota Palangka, kebahagiaan itu seolah menjauh dari kami.

Secara swadaya, abah memutuskan untuk mengungsikan mamak, aku, dan ading ke rumah nenek di pinggiran Kota Intan, Kota Martapura, Kalimantan Selatan. Sementara abah, memilih untuk bertahan di Palangka, bergabung dengan relawan-relawan lain untuk bahu-membahu membantu petugas memadamkan hutan yang terbakar. Kami pun terpisah meski kata abah itu hanya untuk sementara. Menurut abah, para pembakar hutan itu memang jahat. Makanya, kalau kita ngaku baik, kita tidak boleh diam saja. Apalagi, kemarau tahun ini lebih lama dari biasanya. Maka lebih baik menjadi sebatang lilin meski hanya bisa memberi secercah cahaya, daripada hanya bisa mengutuk kegelapan.

Namun saat itu, saat aku berada di luar alam sadarku, semua terlihat begitu berbeda. Tak ada asap di sekitar rumahku. Arah pandang pun tampak jelas ke segala penjuru. Di situ, di luar alam sadarku, abah mengenakan kemeja putih lengan panjang, kemeja yang sering aku lihat di TV dikenakan oleh orang-orang yang katanya penting di negeri ini. Untuk apa abah berkemeja seperti itu?

Abah handak tulak. Ikam kada usah umpat. Jagai haja mamak ikam! Ingati pesan abah! Ikam ni kepala keluarga amun abah kada di rumah. Paham lah ikam?”

Aku hanya bisa mengangguk, lalu tertunduk mendengar pesan abah. Abah memang selalu berpesan seperti itu padaku. Pesan itu juga abah berikan ketika melepas kepergian kami ke rumah nenek. Tapi, kenapa abah hanya memintaku menjaga mamak? Bukankah biasanya abah selalu memintaku menjaga mamak dan ading?

Kutegakkan kepalaku perlahan. Ingin kutahu alasan abah berpesan seperti itu. Tapi bukan jawaban yang kudapat, aku justru makin tak paham dengan yang terjadi. Abah yang sebelumnya berdiri tepat di depanku dengan kemeja putih lengan panjang itu, hilang tak berbekas. Kulihat ke sekeliling, tak ada siapa pun. Kususuri ruang tamu dan ruang tengah rumahku, abah tetap tak ada.

Di tengah kebingunganku, tiba-tiba terdengar suara yang sangat berisik dari arah kamar mandi. Suara itu seperti suara palu yang dihujamkan berkali-kali dengan sekuat tenaga. Sesegera mungkin, aku pun menuju ke arah sumber suara itu. Di sana, kudapati abah sedang memalang pintu kamar mandi dengan kayu yang berlapis-lapis. Abah seperti hendak mengunci mati pintu kamar mandi itu.

Bah! Abah! Apa diulah, Bah?” tanyaku antara tangis dan teriak, namun abah tak menjawab, hanya berhenti memalu. Ditundukkannya pandangan matanya dalam-dalam, lalu perlahan mengarahkan pandangan itu padaku, tajam.

Jagai mamak ikam! Lakas jagai mamak ikam! Jagai mamak ikam!”

Meski kutahu abah akan makin marah kalau melihatku benar-benar menangis, namun aku hanyalah anak dengan rasa takut yang tak mungkin tertahan jika melihat abah seperti itu. Rintihku pun pecah, menyebut nama abah dengan harap abah tak lagi berlaku seperti itu.

¯¯¯

 

“Aba...h! Aba...h! Aba...h!” rintihku menyebut abah.

“Sabar, Yansyah! Saba...r! Ikhlaskan abah ikam! Ikhlaska...n!” lamat-lamat bisik acil terdengar di telingaku, berpadu dengan suara orang-orang mengaji. Mungkin itulah saat aku mulai merasa kalau aku telah kembali ke alam sadarku. Kepalaku berbantal. Tubuhku terbaring di atas sofa ruang tamu rumah nenek.

“Abah, Cil. Mana abah, Cil?”

Iih, Yansyah. Iih. Abah ikam sudah tenang. Ikam ikhlasi haja...!

Aku tak terlalu paham dengan maksud acil. Meski kelak, aku pun merasa bahwa saat-saat itu akan menjadi penggalan tragedi hidup yang akan tertanam dalam sanubariku. Yang aku tahu saat itu hanyalah abah yang sekarat, lalu berulang kali menyuruhku untuk menjaga mamak di luar alam sadarku. Karena itu, aku hanya ingin melihat abah. Ya, abah. Di mana abah?

Kucoba angkat tubuhku yang masih terbaring di atas sofa. Aku hanya ingin memastikan kondisi abah yang kulihat berbeda di luar alam sadarku, lalu bertanya maksud abah yang berulang kali menyuruhku menjaga mamak. Namun baru saja aku berusaha menoleh ke arah pintu yang menuju ruang tengah rumah nenek, aku melihat sesosok tubuh terbalut kain putih, yang dibaringkan di atas balai kecil, tepat di tengah ruang tamu. Seketika, tenggorokanku seperti kembali tercekat. Jantungku berdebar kencang. Badanku bergetar hebat. Bibirku merintih memanggil-manggil abah.

“Sabar, Yansyah! Yang ikhlas! Abah ikam sudah tenang di sana. Amun ikam kada ikhlas, kena ngalih jalan sidin di sana. Istighfar, Yansyah! Astaghfirulla…h al azi…m! Astaghfirulla…h al azi…m!”

Mendengar itu, aku tak mampu lagi menguasai diriku. Aku bahkan seperti tak lagi bisa merasakan tubuhku. Aku tak lagi mampu mengeluarkan suara tangis. Hanya air mata yang sepertinya mengalir begitu saja.

Duhai, kiranya nyanyian kematian telah menggema, menghentak rumah tua kecil nenek, memutus jalinan cinta suci abah dan mamak, serta mengubur tempatku mencontoh dan bangga. Kini tiada lagi semua itu. Hanya kenanganlah yang akan tersisa.

Kematian. Kata itu pulalah yang mengakhiri setiap kisah hidup manusia di dunia, menjadi sesuatu yang pasti terjadi dengan apa pun yang menjadi penyebabnya. Tak ada sejengkal pun tempat yang bisa menjadi pelindung dari kedatangannya. Karena memang itulah ketetapan Ilahi, segala mahluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian.

¯¯¯

 

Hari-hariku kini adalah hari-hari yang pekat, melebihi pekat asap yang telah merenggut nyawa abah. Kini bukan saja aku tak lagi bisa melihat diri abah, senyum mamak pun seolah turut terkubur bersama jasad abah. Mamak kini jadi sosok yang berbeda. Meski kami tetap tinggal dalam satu rumah, aku seperti tak lagi bisa merasakan kehadiran mamak. Mamak kerap murung dan menyendiri.

Berbagai pemahaman pun telah diberikan untuk membuat mamak bisa seperti dulu lagi. Nenek, acil, dan juga julak sudah silih berganti memberikan pemahaman bahwa abah telah pergi karena tujuan mulia. Kepergian abah tidak boleh diratapi terus-menerus, apalagi abah pergi dengan akhir yang baik karena sempat berucap syahadat sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.

Namun mamak yang sepertinya benar-benar telah kehilangan semangat hidupnya, tak lagi mampu berpikir jernih. Pada saat-saat tertentu, mamak justru pergi ke makam abah, duduk bermonolog selama berjam-jam hingga kadang sampai tertidur seraya mendekap makam abah.

Dari itu, aku mulai paham maksud pesan abah dalam alam luar sadarku. Abah memintaku untuk menjaga mamak karena mamak seperti tak bisa hidup tanpa abah. Besarnya rasa cinta mamak pada abah kini justru menjadi belunggu bagi mamak setelah abah tiada. Tapi apa yang bisa kulakukan untuk menolong mamak kalau aku saja tak lagi bisa merasakan keberadaan mamak?

Dalam kondisi serba-tak tahu seperti itu, kuceritakan semua yang kualami dalam alam luar sadarku pada acil. Kuceritakan pesan abah yang sepertinya berkaitan dengan yang terjadi pada diri mamak. Kuceritakan pula tingkah aneh abah yang mengunci mati pintu kamar mandi dengan palang-palang kayu.

Acil pun mengangguk-anggukkan kepala, seperti paham dengan makna semua cerita yang kualami dalam alam luar sadarku. Tanpa pikir panjang, acil lalu meminta julak membuat pagar kayu untuk mengelilingi makam abah dan makam kai yang berdampingan di belakang rumah.

Sejak itulah, aku tak lagi melihat mamak bertingkah ganjil di atas makam ayah. Perubahan itu tentu membuat kami lega, terutama nenek. Bagi nenek, itu sudah cukup meski tubuh mamak terus saja mengurus lantaran tak banyak makanan yang masuk ke dalam tubuh mamak. Menurut nenek, yang penting aku mau bersabar mendampingi mamak. Karena itulah, aku yang sebelumnya tak pernah tidur seranjang dengan mamak, kini membaur bertiga bersama mamak dan ading.

¯¯¯

 

Malam begitu dingin. Kandung kemihku jadi terasa penuh. Aku pun terbangun dari tidurku, tak kuat menahan, harus ke kamar mandi. Kuihat di sebelahku hanya ada ading. Mungkin mamak juga ke kamar mandi, pikirku.

Dengan kesadaran seadanya, kucoba langkahkan kaki, seperti zombi. Kususuri ruang-ruang rumah dengan mata yang terasa berat kubuka. Dengan langkah yang masih gontai, kubuka pintu kamar mandi dengan perlahan.

Namun alangkah terkejutnya aku ketika melihat pemandangan yang ada di hadapanku, pemandangan yang seketika mampu menghilangkan rasa kantukku menjadi tak berbekas sama sekali, pemandangan yang membuat jantungku seperti tercabut dari tempatnya, pemandangan yang membuatku ingin berteriak sekuat-kuatnya, membuat jiwaku meronta sejadi-jadinya. Tepat di depanku, aku melihat tubuh mamak tergantung kaku.

¯¯¯

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TEKS ANEKDOT

A.        Contoh Teks Anekdot Sekali Pakai   Seorang warga Samarinda yang berprofesi sebagai sopir travel bandara, diajak ngobrol pe...