Senin, 21 November 2022

DEBAT

A. Pengertian Teks Debat

Teks debat adalah teks yang berisi adu argumentasi secara logis antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, untuk mendiskusikan dan memutuskan masalah serta perbedaan.

B. Tujuan dan Manfaat Debat

  • Tujuan: Untuk menyampaikan dan mempertahankan argumentasi serta meyakinkan pihak lain (lawan atau juri) akan kebenaran posisi kita.

  • Manfaat:

    1. Melatih kemampuan berpikir kritis dan responsif.

    2. Meningkatkan kemampuan beretorika (public speaking).

    3. Melatih manajemen emosi dan kepercayaan diri.

    4. Melatih pengambilan keputusan yang tepat berdasarkan data.

C. Unsur-Unsur Debat (Pihak yang Terlibat)

  1. Mosi: Topik atau pernyataan yang diperdebatkan (bersifat kontroversial/dua sisi).

  2. Moderator: Pemimpin debat yang bertugas membuka debat, memperkenalkan peserta, membacakan tata tertib, dan menjaga netralitas.

  3. Tim Afirmasi (Pro): Pihak yang setuju dan mendukung mosi.

  4. Tim Oposisi (Kontra): Pihak yang menentang atau menyanggah mosi.

  5. Tim Netral (Opsional): Pihak yang memberikan argumen objektif dari dua sisi.

  6. Juri: Pihak yang menilai kekuatan argumen, kefaktualan, dan etika untuk menentukan pemenang.

  7. Penonton: Pihak yang menyaksikan jalannya debat (wajib menjaga ketertiban).

  8. Notulis: Orang yang mencatat jalannya debat dan poin-poin argumentasi.

D. Struktur Teks Debat

  1. Orientasi (Pengenalan): Moderator membuka debat, menyampaikan mosi, memperkenalkan tim, dan membacakan aturan.

  2. Penyampaian Argumen Awal: Tiap tim (Pro dan Kontra) menyampaikan posisi dasar dan argumen pembuka secara bergantian tanpa interupsi.

  3. Adu Argumentasi (Rebuttal): Sesi di mana setiap tim saling menyanggah, membantah, dan mempertahankan posisi dengan data.

  4. Simpulan: Moderator atau perwakilan tim menyampaikan inti dari argumentasi yang telah dipaparkan.

  5. Penutup: Moderator menutup debat dengan apresiasi dan salam perpisahan.

E. Teknik Membangun Argumentasi (Rumus AEL)

Untuk membangun argumen yang sulit dipatahkan, gunakan struktur berikut:

  1. Assertion (Pernyataan): Sampaikan poin utama secara tegas.

  2. Evidence (Bukti): Sertakan data, statistik, hasil penelitian, atau fakta nyata.

  3. Linkback (Kaitan): Hubungkan kembali bukti tersebut ke mosi untuk membuktikan posisi Anda benar.

F. Kaidah Kebahasaan

  1. Kalimat Kompleks: Kalimat yang memiliki lebih dari satu struktur atau informasi.

  2. Konjungsi Kausalitas: Kata hubung sebab-akibat (karena, sehingga, oleh karena itu).

  3. Verba Mental: Kata kerja yang menunjukkan aktivitas pikiran/perasaan (memikirkan, menyadari, meyakini, meragukan).

  4. Kata Rujukan: Kata yang merujuk pada hal sebelumnya (ini, itu, tersebut, hal tersebut).

  5. Pronomina: Kata ganti orang untuk menjaga kesantunan (Saya, Anda, Kami, Kita).

  6. Bahasa Baku: Menggunakan ragam resmi dan sapaan hormat.

G. Etika dan Tata Tertib

  1. Dilarang menyerang pribadi lawan (ad hominem); seranglah idenya.

  2. Berbicara hanya jika dipersilakan oleh moderator.

  3. Menggunakan bahasa yang sopan, tidak menggunakan nada tinggi atau kata kasar.

  4. Menyanggah berdasarkan fakta dan logika, bukan emosi atau fisik.

Contoh Mosi (Topik Debat)

  1. Rendahnya kualitas pendidikan anggota DPRD dan DPR RI dengan bukti banyak yang hanya berijazah Paket C, mencerminkan buruknya kualitas kepemimpinan legislatif Indonesia.

  2. Tingginya angka pengangguran di Indonesia merupakan bukti kegagalan pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja yang layak bagi rakyat.

  3. Keputusan Indonesia membayar 1 miliar dolar kepada Amerika Serikat demi posisi di Dewan Keamanan BOP (Bord Of Peace) menunjukkan sikap tunduk terhadap kepentingan asing di tengah krisis keuangan nasional



TEKS BIOGRAFI

MENGGALI INSPIRASI DARI KETELADANAN DAN KEISTIMEWAAN TOKOH

 

A.   Pengertian Biografi

Secara etimologis, kata biografi berasal dari bahasa Yunani:

  • Bios berarti hidup
  • Graphien berarti menulis

Dengan demikian, biografi adalah teks yang memuat kisah hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain berdasarkan fakta, data, dan peristiwa nyata. Sedangkan kisah hidup ditulis oleh tokoh itu sendiri, disebut autobiografi.

Biografi tidak sekadar menceritakan perjalanan hidup, melainkan juga menyoroti perjuangan, prestasi, pemikiran, nilai-nilai hidup, hingga kontribusi tokoh terhadap masyarakat atau bidang tertentu.

 

B.   Struktur Teks Biografi

Teks biografi umumnya tersusun atas tiga bagian utama:

  1. Orientasi

Bagian ini berfungsi sebagai pengantar. Isinya berupa informasi dasar mengenai tokoh, seperti nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, latar belakang keluarga, serta masa kecil.

  1. Peristiwa Penting

Merupakan inti dari teks. Berisi rangkaian peristiwa yang berkesan dalam kehidupan tokoh, seperti proses perjuangan, karier, prestasi, konflik batin, serta nilai-nilai yang ditunjukkan melalui tindakan tokoh.

  1. Reorientasi (Penutup)

Bagian simpulan atau penegasan ulang terhadap karakter tokoh. Biasanya berupa refleksi atau pandangan penulis terhadap keteladanan tokoh yang patut dicontoh.

 

C.   Ciri Kebahasaan Teks Biografi

      Beberapa ciri kebahasaan yang menandai teks biografi antara lain:

  1. Kalimat Kompleks

Digunakan untuk menggambarkan hubungan sebab-akibat, waktu, maupun penjelasan secara rinci. Contoh: Karena semangat belajarnya tinggi, ia mampu mengatasi keterbatasan ekonomi.

  1. Pronomina (Kata Ganti Orang)

Menggunakan kata ganti orang ketiga seperti ia, beliau, mereka, untuk merujuk pada tokoh.

  1. Konjungsi Temporal (Waktu)

Menunjukkan urutan atau hubungan waktu. Contoh: kemudian, setelah itu, pada suatu ketika, sejak kecil.

  1. Konjungsi Rujukan

Mengacu pada pendapat atau sumber tertentu. Contoh: menurut, berdasarkan, seperti yang dikatakan oleh.

 

D.   Keteladanan dan Keistimewaan Tokoh

             1.     Keteladanan tokoh

Nilai-nilai positif dalam sikap, tindakan, dan prinsip hidup seorang tokoh yang dapat ditiru pembaca.

Contoh:

Kejujuran, kerja keras, keberanian, kesederhanaan, kepedulian sosial dsb.

             2.     Keistimewaan tokoh

Keunggulan atau keunikan yang dimiliki seorang tokoh yang membuatnya berbeda dan menonjol dibandingkan orang lain.

Contoh:

Bakat luar biasa, pemikiran orisinal, prestasi gemilang, atau kontribusi besar yang berdampak luas bagi masyarakat dsb.

 

E.   Manfaat Membaca Teks Biografi

Mempelajari teks biografi memberikan berbagai manfaat, di antaranya:

  1. Meneladani Nilai Positif Tokoh

Seperti semangat juang, kejujuran, kesederhanaan, atau kerja keras.

  1. Menggali Inspirasi Hidup

Dari kisah nyata tokoh yang penuh perjuangan dan keistimewaan.

  1. Menambah Pengetahuan Historis dan Sosial

Karena biografi sering memuat konteks zaman, budaya, atau peristiwa penting.

  1. Mengasah Empati dan Kesadaran Sosial

Dengan menyelami kesulitan atau perjuangan yang pernah dialami tokoh.

  1. Membentuk Karakter dan Prinsip Hidup

Melalui peneladanan nilai-nilai yang diyakini dan dijalani oleh tokoh.

 

F.   Contoh Teks Biografi Tokoh Inspiratif

CHAIRIL ANWAR

Penyair Pelopor Angkatan '45

 

Hampir semua orang yang pernah mengenyam pendidikan hingga tingkat atas pasti mengenal sosok Chairil Anwar. Ia bukan sekadar penyair—namanya melekat erat dengan semangat zaman, suara kebebasan, dan gelora perlawanan terhadap segala bentuk penindasan. Sebagai pelopor Angkatan '45, Chairil telah mengubah wajah puisi Indonesia dengan gaya bahasa yang bebas, lugas, dan penuh intensitas emosi.

 

Masa Kecil dan Pengaruh Ibu

Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatra Utara, pada 26 Juli 1922, sebagai anak semata wayang dari pasangan Toeloes, seorang pejabat pemerintah, dan Saleha, perempuan modern yang mencintai pendidikan dan seni. Perceraian orang tuanya saat ia masih muda meninggalkan luka yang membentuk karakter Chairil: keras kepala, pemberontak, dan akrab dengan kesendirian batin.

Ia diasuh oleh sang ibu, Saleha, yang kemudian menjadi figur sentral dalam hidup dan perkembangan intelektual Chairil. Dari ibunya, Chairil belajar tentang keberanian berpikir, pentingnya kebebasan bersuara, dan cinta pada ilmu pengetahuan. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi pemikiran dan ekspresi sastranya di kemudian hari.

 

Hijrah ke Batavia dan Lahirnya Penyair


Meski hanya menempuh pendidikan hingga MULO—itu pun tidak tamat—semangat belajar Chairil tak pernah padam. Pada usia 18 tahun, ia merantau ke Batavia (Jakarta) bersama ibunya. Di kota inilah perjumpaannya dengan dunia sastra modern dan para intelektual muda terjadi. Ia mulai mengirimkan tulisannya ke media seperti Poedjangga Baroe dan bergaul dengan tokoh-tokoh seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan Asrul Sani.

Karya-karyanya mencerminkan jiwa yang bergolak. Chairil menolak gaya puisi lama yang sarat aturan. Ia memilih gaya baru yang lebih bebas dan personal. Puisinya yang paling populer, "Aku", menjadi semacam manifesto pribadi sekaligus simbol perlawanan generasi muda terhadap penjajahan Jepang. “Aku ini binatang jalang // dari kumpulannya terbuang,” adalah penggalan yang mencerminkan perasaan terasing sekaligus pemberontakan batin yang dalam.

 

Cinta yang Tak Direstui dan Luka yang Mengendap

Di balik ketegasannya, Chairil juga menyimpan kerentanan. Ia sempat menjalin hubungan dengan seorang aktivis perempuan cerdas bernama Sri Ayati. Kedekatan mereka terjalin dalam ruang-ruang diskusi dan pergerakan, namun hubungan itu kandas karena tidak direstui oleh orang tua Sri Ayati. Chairil dianggap tidak mapan, tak memiliki masa depan yang jelas, dan menjalani hidup serampangan.

Kekecewaan ini meninggalkan jejak dalam puisi-puisinya. Dalam sajak "Yang Terampas dan yang Putus", ia mengekspresikan kesedihan mendalam akibat kehilangan—bukan hanya cinta, tapi juga rasa penerimaan dan harapan.

Chairil kemudian menikah dengan Hapsah Wiraredja dan dikaruniai seorang anak. Namun pernikahan itu pun tidak berlangsung lama. Dunia Chairil seolah terlalu gaduh untuk tenang di satu pelabuhan.

 

Karya, Penerjemahan, dan Warisan

Meski hidupnya singkat, Chairil sangat produktif. Ia menulis lebih dari 70 puisi serta menerjemahkan karya-karya besar dunia. Kumpulan puisi terkenalnya antara lain:

1.     Deru Campur Debu (1949)

2.     Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Terputus (1949)

3.     Tiga Menguak Takdir (1950, bersama Rivai Apin dan Asrul Sani)

4.     Terjemahan: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (Andre Gide, 1948) dan Kena Gempur (John Steinbeck, 1951)

Karya-karyanya telah melampaui batas bahasa dan budaya. Puisinya diterjemahkan ke berbagai bahasa oleh sastrawan dan penerjemah internasional, antara lain:

1.     Burton Raffel, Selected Poems of Chairil Anwar (1962), The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar (1970)

2.     Liauw Yock Fang, The Complete Poems of Chairil Anwar (1974)

3.     Walter Karawath, Feuer und Asche (Jerman, 1978)

 

Akhir yang Tragis, Jejak yang Abadi

Chairil Anwar wafat di Jakarta pada 28 April 1949, dalam usia yang sangat muda: 27 tahun. Ia meninggal akibat komplikasi penyakit seperti TBC dan tifus, diperparah oleh pola hidupnya yang tidak teratur dan antikemapanan. Dunia sastra kehilangan sosok yang membakar zaman dengan kata-kata.

Namun, meski raganya telah tiada, suara Chairil tetap hidup. Ia telah mengukir sejarah sebagai penyair muda yang mengguncang sastra Indonesia, menjadikannya lebih manusiawi, lebih bergairah, dan lebih bebas.

“Kalau sampai waktuku // 'ku mau tak seorang 'kan merayu.”

— Chairil Anwar

Chairil telah pergi, tetapi puisinya terus bicara. Ia adalah suara yang menolak diam, jiwa yang menolak tunduk.

 

G.  Analisis keistimewaan dan keteladanan Chairil Anwar

1.    Analisis Keteladanan Chairil Anwar

a.     Mandiri dalam Keterbatasan

Terbiasa hidup dalam kondisi keluarga yang tidak utuh dan tanpa pendidikan tinggi formal, Chairil tetap mampu membentuk dirinya secara otodidak menjadi penyair besar.

b.     Teguh pada Prinsip dan Kebebasan Berpikir

Ia tak tunduk pada sistem yang membatasi ekspresi. Puisinya menjadi alat perlawanan terhadap penjajahan dan simbol kebebasan intelektual.

c.     Cinta Ilmu dan Sastra

Meskipun tidak menyelesaikan pendidikan formal, semangat membaca dan menulisnya tak pernah padam. Ia membuktikan bahwa belajar bisa dilakukan di luar kelas.

d.     Keberanian Menjadi Diri Sendiri

Dalam dunia yang menuntut keseragaman, Chairil memilih menjadi “binatang jalang”—sebuah metafora bagi keberaniannya untuk menjadi orisinal dan autentik.

 

2.    Analisis Keistimewaan Chairil Anwar

a.     Inovator Sastra Modern Indonesia

Chairil berani mematahkan pakem puisi lama yang kaku. Ia memperkenalkan gaya bahasa yang lugas, bebas, dan ekspresif, menciptakan puisi yang lebih dekat dengan pembaca masa kini.

b.     Daya Imajinasi dan Kedalaman Emosi Tinggi

Puisinya penuh dengan simbolisme dan metafora kuat, mencerminkan pemikiran mendalam, keberanian batin, serta ketegangan eksistensial.

c.     Produktivitas Luar Biasa di Usia Muda

Meski wafat pada usia 27 tahun, Chairil meninggalkan lebih dari 70 karya asli dan beberapa terjemahan karya sastra dunia, yang menunjukkan kualitas dan kuantitas pencapaian tinggi.

d.     Diakui Dunia Internasional

Puisinya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa oleh sastrawan dunia, menunjukkan bahwa karya-karyanya melampaui batas geografis dan budaya.

Rabu, 16 November 2022

MEMOAR FBI

 

Aku dan FBI

 

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Hanya kepada-Nyalah aku memohon perlindungan dari segala bentuk godaan setan yang terkutuk agar kiranya penulisan memoar ini tidak melenceng dari tujuan awal, menyambung tali silaturahmi.

Segala puji bagi Alllah, Tuhan semesta alam atas segala nikmat dalam kehidupan ini, lebih-lebih nikmat ditakdirkankannya aku pernah mengenal, bertemu, bercanda, berdiskusi, berdebat, dan bahkan bersitegang dengan angkatan 14 yang memiliki falsafah mampu melampaui batas ketidakmungkinan, FOURTEEN BEYOND IMPOSSIBLE.

Kronologi. Itulah kata kunci tulisan ini. Karena dengan menyebutkan kronologi, segala sesuatu (biasanya) bisa menjadi jelas. Demikian pun dengan memoar kecil ini. Dengan menyebutkan kronologinya, semoga bisa ditangkap isinya setelah dibaca. ^_^

 

Kronologi penulisan

Awal Desember 2013, termuatlah memoarku bersama SWAT, angkatan 17 Smaridasa di blog ini. Namun karena menggunakan media blog, tentu tak hanya SWATers yang bisa membacanya. Semua orang yang mengaksesnya pun bisa, termasuk Adelia Chikita Permata Sari Tuing-tuing, salah satu FBI mania. Dialah yang kemudian meminta dan “memaksaku" untuk segera membuat dan memuat memoar bersama FBI di blog yang sama.

Jumat, 10 Januari 2014, sekitar pukul 23.15, dia memberi kabar bahwa tanggal 20-21 Januari 2014, dia akan ke Surabaya. Maka sebagai mahluk sosial, memintalah diriku ini agar dia bersedia mampir untuk sekadar temu kangen dan berbagi kabar. Lalu dia pun mengajukan syarat, permintaan itu akan dia penuhi jika tulisan ini sudah termuat di blog.

Maka seperti tak ingin membuang kesempatan, selesai ber-sms ria dengannya malam itu, setelah tercipta kesepakatan yang dimaksud di atas, mulailah diriku merangkai kata demi kata agar tercipta memoar yang utuh bersama FBI. Namun pepatah kejam, untung tak dapat dikejar, malang tak dapat ditolak, menimpaku. Laptop tercinta tiba-tiba mati.

Dalam hati pun bertanya-tanya, pertanda apakah gerangan? Disuruh istirahatkah diriku yang waktu itu memang dalam kondisi yang lumayan lelah? Harus ganti laptopkah mengingat laptop yang ada masih berstatus inventaris sekolah? Tak pantaskah diriku membuat memoar tentang angkatan yang begitu luar biasa? Atau, tak perlukah aku memenuhi syarat pertemuan itu karena memang sudah seharusnyalah dia datang dengan keihklasan hati?

Ah, apa pun itu, yang ada di dalam kepalaku waktu itu hanya satu, segera menyelesaikan tulisan ini, atau akan menjadi beban tugas selain tugas kuliah yang waktu itu sudah menumpuk. Hiks…. Maka, karena sepertinya tidak ada tawaran lain, dengan keterbatasan pengetahuan tentang dunia perlaptopan, aku pun mencoba menghidupkan kembali sang laptop tercinta.

Namun hasilnya, Mr. laptop hanya bisa bertahan selama beberapa menit. Setelah itu, mati dan tidak mau dihidupkan kembali dengan cara apa pun. Aaaa….h! Hiks…. Selang beberapa hari, terkuaklah bahwa sumber kerusakannya pada hard disc, yang berarti semua data yang tersimpan tidak bisa dibuka lagi. Huaaaaaaa……

 

Kronologi Awal Kebersamaan

Tahun pembelajaran 2010/2011 merupakan tahun pembelajaran awal bagi FBI. Waktu itu, seperti biasa, aku memandu pembelajaran semester III dan IV, alias kelas XI. Namun seperti tahun sebelumnya, dengan media teater, aku bisa mengenal beberapa personel kelas X yang waktu itu mendaftarkan diri dalam ekskul teater.

Dan seperti biasa pula, kesan pertama yang diberikan begitu luar biasa, lebih dari tiga puluh FBI mania yang masih imut-imut, sok bergabung dalam ekskul teater. Dan seperti yang sudah menjadi rahasia umum, pada umunya, alasan mereka bergabung bukanlah ingin murni berteater, melainkan agar bisa terbebas dari kegiatan malam di asrama.




Karena itu, aku pun yakin, fenomena itu tidak akan bertahan lama. Alam pasti menyeleksi eksistensi mereka. Dan terbukti, setelah hampir satu tahun, daftar nama FBI mania yang tetap aktif dalam lingkaran tetaer tak lebih dari sepuluh orang. Lebih-lebih, waktu itu ada penggarapan karya untuk lomba musikalisasi puisi. Sehingga personel lainnya yang tidak terlibat, seperti hidup enggan, mati pun tak mau.

 

Piala Pertama dan Satu-satunya

Dari hasil seleksi untuk tim lomba muspus tingkat Kota Samarinda yang diadakan di SMAN 3 Samarinda, terpilihlah lima personel FBI yang waktu itu masih imut-imut: (1) Iir, (2) Tiwi, (3) Mila, (4) Zayu, dan (5) Aisyah. Namun selain mereka, paling tidak ada dua orang lagi yang sangat berperan dalam persiapan lomba tersebut, (1) Dipo TNT sebagai dokter gitar, dan (2) Sandi sang Ketan FBI sebagai dokter seruling (recorder).

Dengan persiapan singkat namun penuh liku, tampillah kelima bidadari FBI itu di atas panggung lomba. Grogi, jelas terlihat di wajah-wajah mereka yang belum memiliki pengalaman tampil dalam lomba muspus sama sekali. Iir sang gitaris kelihatan bermasalah dengan tangannya yang pasti berkeringat kalau gugup. Tiwi yang entah karena grogi atau kurang persiapan, tiupannya menghasilkan lengkingan yang super fals.

Namun secara keseluruhan, penampilan mereka tidak mengecewakan. Bahkan secara materi lagu, lagu mereka (karya Iir) terdengar paling bagus di antara peserta yang lain. Sayang, mereka hanya kalah di kostum yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tema puisi yang dipilih. Bayangkan, mereka menggunakan kemeja bermotif kotak-kotak dengan lengan panjang yang digulung setengah lengan, namun lirik puisi yang mereka bawakan bertemakan cinta, dengan nada lagu yang mendayu-dayu.

Hasilnya, mereka kalah dari dua tim yang secara kostum sangat mendukung. Ya, mereka meraih juara tiga. Tapi tahukah kau, kawan? Piala dari lomba itu menjadi piala pertama yang diraih Teater iO Smaridasa. Dan sampai sekarang, belum ada piala lagi yang bisa diraih. Itu artinya, piala yang mereka dapatkan merupakan piala pertama dan satu-satunya. Padahal, waktu itu mereka masih kelas X. Tepuk tangan dulu, do….ng! ^_^

 

Bertemu di Kelas, ternyata Garang

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tahun pembelajaran 2011/2012 dimulai. FBI memasuki semester III. Namun karena jumlah kelas yang fenomenal ketika itu, yaitu tujuh lelas, secara hukum administrasi sekolah, dalam satu mata pelajaran yang terdiri dari empat jam pertemuan dalam satu pekan, tidak boleh dipandu oleh satu guru. Maka imbas dari aturan itu, aku hanya memandu lima kelas: XI IPA B, C, D, E, dan F.

Seperti biasa, pembelajaran yang santai dan terbuka, dengan sentuhan soal-soal yang menuntut kejelian, menjadi sajian khas aku. Namun di luar dugaan, ada tiga siswa yang berani protes keras ketika pembahasan soal berlangsung. Dua orang di antaranya dari kelas B, yaitu Yuni dan Bela. Waw, garang! Sementara satu lainnya merupakan pelaku debat yang tidak asing, Roy dari kelas D.

Namun bukan orang teater namanya kalau sampai kalah dalam hal improvisasi untuk membela diri. Maka hasilnya, dari sekian banyak perdebatan yang terjadi, sepertinya aku masih lebih unggul sedikit. Ya, sedikit, mereka yang lebih banyak. Huuuuu….

 

Zulva Fachrina, Sang Ahli

Seperti biasa, setiap materi pembelajaran yang ada, aku selalu berusaha memberikan materi yang aplikatif. Salah satu di antaranya yaitu resensi. Kawan, secara komposisi, materi ini sungguh sangat sepele. Namun kalau kita mau melihat filosofinya, dengan menguasainya, ada segudang manfaat yang bisa diperoleh.

Zulva, misalnya. Ia memang terlahir dengan bakat akademik yang begitu luar biasa. Bakat itu pun makin sempurna karena ia memiliki kegemaran membaca yang begitu luar biasa pula. Dari itulah, kemampuan menulisnya pun seperti tidak diragukan lagi.

Maka ketika ia mengerjakan tugas resensi, aku pun terpana. Betapa lain karyanya. Ia tak seperti siswa. Tulisannya tak serupa dengan tulisan siswa pada umumnya. Memang, kala itu ia meresensi film Harry Potter kesukaannya. Sehingga secara logika, ia tak kan mengalami kendala dalam mengurai sisi demi sisi tentang film itu karena dia memang suka.

Meski begitu, tetap saja karyanya bukanlah karya yang biasa. Maka ketika ada undangan untuk mengikuti kompetisi pemilihan duta baca pelajar SMA sederajat se-Kaltim tahun 2011, meski awalnya dia tidak mengikuti seleksi di sekolah, aku pun mencoba menyindirnya bahwa sebenarnya dia punya kemampuan yang sayang kalau tidak diberdayakan. Dia pun mau dengan hanya berkata, “Iya, deh, Pak. Nanti saya coba. Tapi ndak janji.” Enteng banget, kan? ^_^

Setelah naskah resensinya selesai dibuat, benar saja, lagi-lagi caranya melihat dan menilai sebuah karya, begitu berbeda. Dia seperti sudah terbiasa meresensi puluhan, ratusan, bahkan ribuan karya. Kalimatnya begitu mengalir. Sudut pandangnya dalam menilai begitu mengena. Maka setelah naskah itu dikirim ke panitia lomba, dari tiga wakil Smaridasa, dialah satu-satunya yang masuk sepuluh besar Kaltim, dan berhak mempresentasikan naskahnya di hadapan lima juri.

Latihan presentasi pun dijalani. Sayang, cara dia presntasi terlalu cepat. Aku pun takut kalau hal itu bisa menjadi nilai kurang di mata juri. Namun karena tidak ingin terlalu membebani, aku pun hanya bisa memberi masukan tanpa kesan mendikte, semoga. ^_^

Setelah dia presentasi di ruang tertutup, aku pun mencoba menanyakan hasilnya. Ternyata benar, menurutnya, dewan juri sedikit kurang nyaman dengan cara presentasinya yang terlalu cepat. Namun dalam hati, aku yakin bahwa dia bisa masuk tiga besar.

Saat yang mendebarkan pun tiba, pengumuman. Namun seperti biasanya dalam sebuah perlombaan, juri yang mengumumkan tidak langsung menyebutkan nama-nama para pemenangnya, tetapi terlebih dahulu memberikan prolog yang begitu panjang. Salah satu penyampaiannya yaitu tentang cara presentasi yang baik. Sang juri pun menyinggung teknik Zulva yang terlalu cepat dalam berpresentasi. Alah, Mak! Tentu saja itu membuat kami ciut nyali. Hiks….

Namun setelah masuk pada saat pengumuman nama-nama sang juara yang membuat aku makin panas dingin, mulai dari terbaik keenam sampai terbaik kedua, namanya tak tersebutkan. Mungkinkah benar dia menjadi peserta terbaik? Padahal ketika berprolog, bukankah sang juri menganggap cara presentasinya terlalu capat?

Dan akhirnya…, setelah memejamkan mata dan menahan napas, tersebutlah nama Zulva Fachrina sebagai Duta Baca Pelajar Kaltim tahun 2011. Bahkan, sang juri pun menyampaikan rasa kagumnya terhadap tulisan Zulva. “Tulisan Zulva tak ada bedanya dengan tulisan seorang ahli resensi,” begitulah kesan sang juri.

Horeee…! Selamat, ya, Cu….p! Good job! ^_^

 

Juara I Lomba CCBI

Akhir Oktober 2011, Smaridasa mendapat undangan perlombaan cerdas cermat bahasa Indonesia (CCBI). Aku pun mendapat tugas untuk menjadi pembimbing lomba tersebut. Karena ingin menerapkan prinsip keterbukaan, perekrutan peserta lomba itu pun dilakukan secara terbuka, namun hanya untuk kelas XI dua orang, dan kelas X satu orang.

Singkat cerita, setelah melakukan seleksi di warjok, sore itu terpilih dua manusia luar biasa dari kelas XI, alias FBI, yaitu Tiwi dan Yuki. Sementara dari kelas X, terpilihlah Firel. Setelah itu, strategi pembagian materi pun dilakukan. Bahkan untuk mematangkan persiapan menghadapi perlombaan, mereka rela berlatih tanpa mengenal waktu. Ke mana pun selalu bawa buku hafalan teori.

Hasilnya pun tak sia-sia. Mereka mampu melewati babak penyisihan dengan skor yang sangat tinggi. Demikian pula pada babak semifinal, mereka mampu melibas lawan-lawan mereka dengan selisih skor yang tinggi. Padahal, salah satu lawan mereka yaitu SMAN 3, salah satu sekolah unggul di Kota Samarinda.

Pada putaran final, lawan terberat mereka yaitu SMKN 1 Samarinda. Namun dengan nyali yang begitu tinggi, mereka sama sekali tidak gentar. Dan seperti telah menguasai teori dengan sepenuhnya, sejak babak penyisihan hingga final, mereka selalu mampu menjawab pertanyaan wajib dengan skor paling tinggi.

Namun memasuki sesi pertanyaan rebutan, skor mereka tersamai oleh regu SMKN 1. Mereka pun tak mau kalah. Meski terkadang salah dan dikurangi nilainya, pada akhirnya mereka berhasil memenangkan lomba itu. Ya, mereka menjadi juara I lomba CCBI yang waktu itu pertama kali diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Bahasa Indonesia Unmul. ^_^

 

Hati Mulia pada Masa Tersulit

Memasuki pertengahan November 2011, dua guru bindo yang lain mendapat tugas melanjutkan pendidikan di jenjang S-2. Sebagai bentuk konsekuensinya, tugas mereka di kelas pun harus diambil alih. Maka dari 16 kelas yang ada (4 kelas X, 7 kelas XI, dan 5 kelas XII), aku terpaksa hurus pontang-panting mengisi jam bindo yang ada. Gila rasanya! Benar-benar gila!

Kalau masuk kelas X, mereka bilang, “Abaikan kami aja, Pak! Materi kami masih enteng. Kasihan kakak-kakak kelas XI dan kelas XII.” Kalau masuk kelas XI, “Kasihan yang adek-adek, Pak, mereka masih perlu perhatian. Yang kelas XII juga, Pak, mereka kan mau UN, jadi harus diprioritaskan.” Sementara kalau masuk kelas XII, “Kami sudah besar, Pak, bisa belajar mandiri. Persiapan UN itu bisa cukup latihan mengerjakan soal-soal UN.”

Aku pun terpana. Mulia betul hati mereka. Betapa besar perhatian mereka pada adik atau pun kakak tingkat mereka. Dan yang membuat aku melambung karena merasa diperhatikan, mereka dengan kompak mengatakan, “Ih, Bapak pasti capek ngajar ke sana-kemari. Bapak istirahat aja. Kasih aja kami tugas, selesai deh kewajiban Bapak.”

 

Duet Adit dan Fendi

Selain mengajar di kelas, ketika itu aku pun mendapat kepercayaan untuk menjadi salah satu personel staf kesiswaan. Sehingga secara otomatis, tiap kali ada kegiatan yang berkaitan dengan kesiswaan, aku pun terlibat.

Awal Desember 2011, tim kesiswaan memandu anak-anak yang tergabung dalam panitia perayaan HUT XIV Smaridasa yang diketuai oleh Adit. Sepanjang sejarah Smaridasa yang aku ketahui, parayaan HUT kala itu tergolong besar karena di dalamnya ada beberapa perlombaan yang berskala Kaltim.

Namun dengan kerja keras para panitia yang didominasi FBI, acara tersebut bisa berjalan dengan lancar dan sukses. Dan momen yang tak kan terlupakan yaitu pengorbanan Fendi selaku ketua OSIS kala itu. Meski masih dalam suasana libur Natal, dia yang sebenarnya masih ingin di rumah untuk merayakan Natal bersama keluarganya, ternyata rela kembali ke sekolah hanya untuk menjaga stan pendaftaran lomba-lomba. Luar biasa, bukan? Tepuk tangan untuk Fendi…..! ^_^

 

Penolong yang Memisahkan

Aneh. Dari sekian banyak kolega guru bindo, baik yang sengkatan, kakak tingkat, atau pun adik tingkat, semua yang dihubungi untuk kemudian diminta mengisi kekosongan guru bindo di Smaridasa, mengaku tidak ada yang bisa dengan berbagai alasan. Ada yang sudah merasa nyaman mengajar di sekolah asal. Ada yang terhalang faktor jarak. Ada yang tidak mau karena hanya sementara. Dan yang paling banyak, mereka mengaku tidak cukup nyali untuk mengajar di sekolah yang siswanya cerdas-cerdas. Ah, ada-ada saja!

Untunglah, setelah sekian waktu sendiri menghadapi masa-masa sulit, datanglah satu guru muda dengan semangat belajar yang tinggi. Dialah Bu Nuriana Indah Sari yang akhirnya meringankan beban mengajar. Namun di sisi lain, dia pulalah yang memisahakan kebersamaan aku dengan FBI. Karena dari tiga angkatan, ternyata dia ditugaskan untuk fokus mengajar FBI. Hiks….

 

Kisah Calon Orang-orang Besar

Seperti tanpa mengenal kompromi, waktu pun terus bergulir tiada henti. Hingga pada akhirnya, masa keterpisahan pun berakhir. FBI memasuki tahun pembelajaran terakhirnya di Smaridasa. Itu artinya, kami kembali bersama-sama di kelas. Bahkan untuk saat itu, tak ada lagi kelas yang tidak terpandu secara langsung. Dari kelas A, B, C, D, E, F, dan IPS, akulah yang memandu pembelajaran bindo di kalas.

Dan tahukah kau, kawan? Pada tahun terakhir mereka inilah warna-warni memori terpahat begitu indah. Banyak sukanya, namun tak sedikit pula dukanya. Ada tawa, ada pula rasa tak suka. Semua berpadu menjadi satu.

Monde, Rama, Akbar, Arphan, Yedho, Leon dan beberapa pejantan lainnya, kerap menjadi lawan main dalam drama kamtibmas. Mereka berperan sebagai tokoh protagonis yang pada awal cerita masih tersisipi ruh antagonis. Namun itulah hidup. Berbagai konflik cerita yang terbentuk pada akhirnya menjadi penggalan kisah yang bergitu indah untuk dikenang. Penggalan-penggalan kisah itu mampu menghadirkan senyum manis kala rindu bertamu.

Dan aku sangat yakin bahwa kelak mereka akan menjadi orang-orang hebat. Bukan karena peran yang itu. Namun karena keberanian mereka dalam menunjukkan jati diri itulah, yang biasanya menjadi modal calon orang-orang besar.

 

Mabok BABI

Ada yang istimewa ketika FBI berada di tahun terakhir mereka. Dengan pertimbangan sederhana bahwa aku menjadi salah satu pemandu pembelajaran mereka yang kala itu sudah kelas XII, aku pun ditunjuk menjadi salah satu wali kelas mereka. Dua puluh manusia luar biasa pun menjadi korban atas putusan itu. Karena, menjadi wali kelas itu hakikatnya tidak mudah, harus siap lahir dan batin.

Kalau ada siswa yang tidak masuk lebih dari dua hari karena sakit, harus dijenguk. Kalau ada siswa yang bermasalah, harus bisa menjadi pemberi jalan keluar, atau paling tidak bisa jadi pendengar yang baik untuk mereka. Kalau ada yang kencing atau BAB di kelas, harus telaten nyebokin dan ganti popoknya. Lho!!!

Tapi semua itu hanya teori. Karena pada kenyataannya, bukan peran aku yang menonjol sebagai wali kelas, melainkan justru merekalah yang menunjukkan bakti yang begitu luar biasa. Karena kesabaran merekalah, Mabok BABI, Majalah Tembok - Baiknya Anda Baca Ini, yang sejatinya merupakan tanggung jawab guru kelas, bisa eksis walau hanya satu edisi. Tampilannya begitu menarik. Meski bukan tiga dimensi, pernak-perniknya mampu membuat mata sulit untuk jenuh melihatnya.

Maka kepada orang-orang yang berjasa atas itu semua yang tidak mungkin kalau disebutkan satu per satu, aku mengucapkan terima kasih. Semoga kebaikan kalian berbuah kemudahan pada tiap urusan kalian. Ayo bilang amin! Ami…n! ^_^

 

Balada Sang Pembela Kebenaran dan Keadilan

Himpunan Mahasiswa Bahasa Indonesia Unmul kembali mengadakan lomba CCBI. Smaridasa pun kembali diundang. Berniat ingin mempertahankan juara I, strategi “licik” pun diambil. Dua wakil Smaridasa pada tahun sebelumnya, Tiwi dan Yuki, kembali menjadi starter. Ada pun pengganti Firel yang waktu itu sudah pindah ke Bandung, teman seangkatannya, Eka Rizky, alias Emey.

Persiapannya pun tentu tidak seribet tahun sebelumnya. Apalagi, ternyata Tiwi dan Yuki masih memiliki catatan teori yang terlihat sedikit lucuh karena saking seringnya dibuka dan dibaca. Ada pun Emey, dia yang tipikal pekerja keras, tentu bisa dipercaya dan tak membuat khawatir. Optimisme bisa mempertahankan juara pun makin besar.

Namun medan lomba tahun itu tak sepenuhnya sama dengan tahun sebelumnya. Para pesaing dari sekolah lain makin matang dalam melakukan persiapan. Namun di lain sisi, panitia dan juri pun tak luput dari kekhilafan dalam merumuskan soal dan jawaban. Maka sebagai siswa berprestasi lagi menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, Tiwi tak berdiam diri. Dibantahnya jawaban juri yang di matanya salah. Hingga debat sengit pun terjadi. Dan hasilnya, lagu klasik, jawaban juri benar, tidak bisa diganggu atau pun digugat. Huuuuuu……

Namun layaknya alur film Bolywood, yang benar pasti menang. Demikian pun mereka.  Setelah bertarung babak demi babak, sesi pertanyaan wajib atau pun rebutan, mereka bisa melewatinya dengan baik. Yes!!! Meski hanya skala Kota Samarinda yang di mata sekolah kurang berharga, tiga bidadari Smaridasa tadi berhasil membawa pulang piala juara I untuk kali kedua. I’m so proud of you, girls! ^_^

 

Piagam dalam E_mail

Sepanjang pengalaman aku bernaung di Smaridasa, sepertinya sulit menemukan sosok siswa (putra) yang hasil belajarnya bagus meski di lain sisi, dia begitu aktif dalam kegiatan organisasi siswa. Namun untuk FBI, aku berani angkat topi.

Adit, itulah dia orangnya. Meski dikenal begitu aktif dalam berbagai kegiatan organisasi siswa di Smaridasa, hasil belajarnya nyata tidak mengecewakan. Prok, prok, prok!!! ^_^ Tak hanya itu, dia pun masih sempat-sempatnya mengasah kemampuan menulisnya dengan mengikuti lomba menulis esai di internet.

Sampai pada suatu hari, datanglah dia untuk berkonsultasi. Maka sebagai gurunya yang harus tetap menjaga wibawa, aku pun melakukan improvisasi tingkat tinggi dengan berusaha “nyambung” dengan berbagai hal yang dikonsultasikannya. Dengan gaya sok-sok-an, aku pun menyampaikan trik-trik dalam menulis esai.

“Esai itu mengupas suatu masalah, Dit. Namun di bangian akhir, ada tawaran solusi yang sifatnya baru dan logis. Kalau kamu bisa kayak gitu, peluang menang insyaallah ada.”

“Iya, Pak”

Ah, Adit, sehebat apa pun dia, ternyata nurut saja meski dibohongi. Ckckckc….

Singkat cerita, esainya tentang lingkungan hidup masuk sepuluh besar nasional dengan bukti piagam dari panitia. Sayang, karena tidak sampai masuk tiga besar, dia pun eggan untuk datang pada acara penyerahan piagam itu. Maka, terpaksa piagam yang desainnya begitu indah itu, hanya dikirim ke emailnya. Hiks…..

 

Guru PKn pun Bisa

Entah karena kultur sekolah atau sudah menjadi gen FBI yang selalu berusaha melampaui batas ketidakmungkinan, semangat mengikuti lomba benar-benar tertanam dalam diri mereka. Hingga pada suatu ketika, tersebutlah lomba menulis esai dan cerpen di internet. Lomba itu berskala nasional, skala yang selalu menjadi tolok ukur kehebatan sekolah-sekolah dalam berprestasi.

Maka bermodal pengalamannya dalam mengikuti lomba menulis esai, Adit kembali beraksi. Namun kali ini, dia tidak sendiri. Ada Ummi, si kutu Kaltim Post, yang ternyata juga tertarik mengikuti lomba itu. Sedangkan untuk lomba menulis cerpen, Cirry, si gadis penuh bakat menulis prosa, telah siap dengan karyanya.

Namun karena keterbatasan satu dan lain hal, hanya Adit dan Ummi-lah yang melakukan konsultasi, Seperti biasa, akting sok tahu menjadi solusi. Dan seperti biasa pula, ternyata mereka pun hanya bisa meng-iya-kan. Dan setelah menjalani serangkaian proses penyuntingan, pada akhirnya, terkirimlah naskah esai mereka yang bertemakan peran pemuda dalam pembangunan, dengan uang pendaftaran Rp25.000,00.

Masa penantian pengumuman hasil lomba pun menjadi sesuatu yang bersensasi. Lebih-lebih, pihak panitia dengan semena-mena mngundurkan jadwal pengumuman itu. Namun rasa kecewa mereka akhirnya terbayar mahal. Bak tiga serangkai yang selalu mengisi kekosongan satu sama lain, mereka secara berurut menjadi pemenang dalam lomba itu. Wuiiiih, keren, Gan, serasa mimpi! Adit juara I, Ummi juara II, Cirry juara III.

Namun sayangnya, penyerahan hadiah harus di tempat lomba, yaitu di Bandung, Jawa Barat. Mereka pun bingung, merasa salah kalau sekolah tidak dilibatkan dalam hal biaya transportasi dan kawan-kawan. Maka, berkonsultasilah mereka pada pihak sekolah. Hasilnya, mereka girang karena akhirnya mendapat bantuan dana.

“Tapi, kalian harus didampingi guru,” ujar kepsek. “Siapa guru pembimbing lomba kalian?” tanyanya.

“Pak Fadil, Pak,” jawab mereka kompak.

“Oh, ya. Kalau gitu, kalian didampingi Pak Fadil.”

Mendengar jawaban itu, wuiiiih, aku yang ikut menghadap, tentu senyum-senyum karena terbayang akan terbang ke Bandung, salah satu kota di Indonesia yang aku ingin mengunjunginya secara khusus.

“Di mana lombanya?” tanya sang kepsek kembali.

“Di Bandung, Pak,” jawab mereka, tetap serempak.

“Oh, di Bandung, yah? Wah, kebetulan ada guru PKn kita yang lagi di sana. Kalau misalnya kalian didampingi guru PKn, ndak masalah, kan? Kalau Pak Fadil, saya yakin bisa paham karena ini menyangkut efesiensi penggunaan anggaran sekolah. Ya, kan, Pak Fadil?”

 

Petualangan Remedi si Pemuda Tampan

Karena berada di tahun terakhir, mereka pun mendapat gemblengan guna menghadapi UN. Jam tambahan pun menjadi pilihan sekolah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku yang menjadi salah satu pemandu mapel UN, pun harus sebisa mungkin selalu hadir sesuai jadwal, baik pada pagi, siang, sore, atau pun malam hari.

Sampai pada suatu hari yang begitu indah, datanglah aku ke sekolah pada malam hari untuk menunaikan tugas. Waktu itu masuk di kelas B. Menjelang berakhirnya jam pembelajaran, kepala terasa pusing, bahkan pandangan berkunang-kunang.

Setelah kelas B meninggalkan kelas, bersandarlah aku di kursi kelas dengan tingkat kesadaran yang mulai menurun. Di saat kritis itulah, datang pemuda tampan yang bermaksud melakukan remedi. Dialah M. Akbar Mulyadi.

Karena memang merasa sudah tidak kuat lagi, aku pun meminta padanya agar melakukan remedi kali lain. Namun dia malah merengek dengan dalih bahwa dia sudah siap saat itu. Sehingga kalau ditunda, bisa jadi dia malah tidak siap lagi.

Tanpa pikir panjang, aku pun mengajukan tawaran diplomasi bahwa nilainya sudah baik tanpa melakukan remedi asalkan dia lekas pergi dari peredaran. Karena yang terpenting saat itu, hanyalah ketenangan di tengah kesadaran yang kian kritis. Namun bukannya senang, dia malah menganggap tawaran itu hanya sebuah lelucon sehingga dia tetap ngotot ingin remedi saat itu juga.

Kawan, kalau saja saat itu ada samurai atau pun senjata api, mungkin aku sudah menggunakannya untuk menggiring pemuda tampan itu menuju peristirahatan terakhirnya. Namun karena tidak ada apa-apa, aku pun hanya bisa bersumpah,

“Demi Allah, nilaimu sudah baik tanpa remedi.”

“Ah, Bapak bercanda. Ayolah, Pak! Saya mau baikin nilai ini… Saya mau berubah.”

“Iya, kamu udah berubah. Nilaimu juga sudah baik. Bapak anggap kamu sudah remedi.”

“Ah, itu kan cuma anggapan Bapak! Kenyataannya kan belum.”

“Uma, a…i! Harus dengan cara apa meyakinkanmu kalau bapak ini lagi sakit? Ini bapak udah mau pingsan. Masa kamu ndak lihat muka bapak yang pucat begini???”

Setelah bernegosiasi dengan cukup alot, pemuda tampan itu pun mau meninggalkan kelas meski harus berkali-kali meyakinkan,

“Bener lho, Pak. Bapak sendiri yang bilang kalau saya sudah remedi. Jadi, nanti saya ndak usah remedi lagi, kan?”

 

Akting Muntah di Depan Kelas

Kepergian pemuda tampan dari ruang kelas bukan berarti mengakhiri penderitaan diri yang makin di ujung tanduk. Sendirian di ruang kelas dengan kondisi setengah sadar, membuat aku makin tidak keruan. Yang paling menakutkan bukanlah pingsan sendirian di kelas, melainkan istri di rumah yang tak ber-HP, pasti tidak akan tahu apa-apa.

Maka dengan sempoyongan, aku pun berusaha keluar kelas untuk sekadar memperlihatkan diri pada orang lain. Beruntung, di ruang sebelah masih terdengar suara siswa berdiskusi. Jadi kalau pun terpaksa aku sampai pingsan, ada orang lain yang tahu.

Kawan, bisakah kau bayangkan kondisi orang yang sudah mau pingsan? Keringat dingin mengalir seenaknya sendiri, pandangan mata seperti berkunang-kunang, dan langkah kaki bagai melayang-layang? Seperti itulah aku kala itu. Ah, rasanya mungkin lebih enak pingsan daripada proses menuju pingsan itu sendiri.

Namun itu belum seberapa parah, kawan. Kalau hanya sakit badan, mudah saja disembuhkan. Kalau hanya sakit perasaan, pun mungkin bisa disembuh-sembuhkan. Tapi kalau sudah badan dalam kondisi sakit hampir pingsan, lalu didera pula dengan siksaan perasaan karena dicurigai oleh orang yang tidak asing lagi dalam kehidupan, pasti akan menimbulkan rasa sakit yang sesakit-sakitnya, bukan?

Mau tahukah kau tentang kisah yang itu, kawan? Baiklah, begini ceritanya. Betapa senangnya aku mengetahui di ruang sebelah masih ada empat orang yang masih mendiskusikan sesuatu sehingga meski sudah masuk jam istirahat di asrama, mereka masih bertahan di sekolah.

Dalam hati, aku pun yakin bahwa keberadaan mereka memang atas kehendak-Nya. Ya, malam itu mereka sepertinya memang ditakdirkan menjadi malaikat penolong. Maka tak menunggu lama, segeralah masuk aku ke ruang kelas, tempat mereka berdiskusi.

“Aduh, Bapak mau pingsan. Tolong air putih, dong!” seru aku, berharap mereka segera memberi pertolongan, paling tidak memberi air minum karena tiba-tiba saja tenggorokan terasa begitu kering.

Seiring kondisi badan yang kian melemah, secara spontan, aku pun menggabungkan dua menja untuk dijadikan tempat berbaring. Dengan tubuh yang lemah gemetar, aku pun merebahkan badan di atas meja. Namun di tengah rintih diri menahan gejolak yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, terdengar celoteh yang menusuk hati,

“Wuis, Pak Fadil akting. Awas, awas! Pak Fadil akting.”

Entahlah, tak tahu persis sang penutur kalimat yang menusuk itu. Yang jelas, mereka berempat: Adhadi, Faisal, Yuki, dan Yunita. Empat nama yang mungkin tak akan terlupa untuk selamanya.

“Ini, Pak, air putih.”

Alhamdulillah, ada air putih. Namun anehnya, air itu terasa begitu aneh. Sama sekali tak terasa sebagai air minum. Sengak, menusuk lidah, dan membuat mual seketika.

“Air apa ini????”

“Air minum, Pak”

Tak kuat menahan mual, aku pun keluar dari kelas, lalu membungkuk di ujung teras, tepat di hadapan taman.

Hoeeek! Hoeek!

Semburan isi perut pun terhambur di sekitar taman. Beberapa bekas kunyahan cabai yang terlihat belum halus, tampak di antara material muntahan lainnya. Anehnya, setelah muntah, rasa mual dan pusing itu jadi berkurang, bahkan seperti hilang. Maka ketika keempat malaikat tengil terlihat berubah menjadi panik, lalu bertanya, “Bapak kenapa?”, dengan mudah aku pun menjawab, “Bapak cuma akting muntah.”

 

Printer Mama

Meski memasuki masa uzur di Smaridasa, tak lantas membuat FBI surut semangat dalam mengikuti lomba. Jangankan lomba individu, lomba berkelompok pun dibabat, salah satunya lomba menulis karya ilmiah bertemakan penanggulangan HIV AIDS yang diadakan oleh FK Unmul.

Mereka yang ikut, pun membentuk kelompok, alias regu. Ada regu putri, regu putra, dan ada juga regu campuran. Tentu, tidak semua kelompok berkonsultasi dengan aku. Bukan karena terlalu banyak regu sehingga membuat aku padat jadwal pelayanan konsultasi, tapi karena beberapa di antara mereka tak sampai hati mengingat tema yang diangkat yaitu tentang HIV AIDS.

Dinamika kerja kelompok pun terjadi. Ada kelompok yang bekerja dengan totalitas tingkat tinggi, yaitu dengan mendatangi markas komunitas penderita HIV AIDS di Kota Samarinda. Ada kelompok yang berkerja dari pagi sampai malam dengan mengabaikan jam belajar pagi di sekolah, makan gratis di asrama, dan bimbel malam di sekolah. Dan yang paling ekstrem, ada kelompok yang sampai memilih meninggalkan asrama demi bisa fokus membuat laporan penelitian di rumah.

Hasil kerja keras mereka pun tak sia-sia. Dari enam kategori juara, tim-tim Smaridasa berhasil merebut (semoga tidak salah) tiga di antaranya, yaitu juara I, juara III, dan juara harapan II. Sungguh prestasi yang sangat luar biasa.

Namun yang menjadi kesan tersendiri, hadiah lomba tidak berupa uang, melainkan barang. Juara satu, yaitu Nanda, Tiwi, dan Fathia, mendapat printer mahal dengan ukuran yang lumayan besar. Mereka yang putri, tentu agak kerepotan membawa barang sebesar itu.

Nanda yang tempat tinggalnya tak jauh dari tempat lomba, paling nyaman karena tinggal minta dijemput. Fathia pun tak jauh beda. Meski sempat masuk angkot, printernya kemudian diturunkan di Sutomo, diambil oleh orang tuanya. Yang membingungkan, tentu Tiwi, si bècék dari Tarakan. Kalau dibawa ke asrama, tentu tak terpakai. Kalau dibawa ke Tarakan, terlalu merepotkan.

Kesepakatan pun tercipta. Tiwi perlu uang, aku yang kala itu tak memiliki printer, bersedia mencicil printernya yang berharga mahal itu. Namun karena sudah terlanjur dibawa ke asrama, transaksi pun baru bisa dilaksanakan pada hari Senin, setelah upacara.

Hari Senin pun tiba. Aku pun tak sabar ingin segera memboyong printer mahal itu ke kontrakan. Maka jangankan setelah upacara, sebelum subuh pun rasanya ingin sekali mengambilnya. Namun ketika sedang sumringah-sumringahnya karena terbayang akan punya printer bagus, belum saja aku mendatangi Tiwi di barisan upacara, HP di kantong celana terasa bergetar.

Dari tampilan layar, tertera nama FBI Tiwi. Wuiiih, tambah sumringahlah aku. Sepertinya, dia pun tak sabar bertransaksi. Dalam hati pun memaki, “Dasar cewek, kalau sudah urusan uang, laju terus bawaannya!” Namun setelah HP dibuka, lalu isi sms muncul, aku pun lemas seketika.

“Maaf, Pak. Setelah saya cerita ke mama saya, kata mama saya, biar mama saya aja yang beli. Karena ternyata, mama saya juga lagi butuh printer. Maaf banget, ya, Pa…k!”

 

Sekolahnya Manusia

Akhir masa bagi FBI di Smaridasa pun makin dekat. Begitu banyak kesan yang tertanam di hati, yang mungkin tak kan tertuang semua jika dituliskan. UN yang jadwalnya molor-molor, yang konon 20 paket soal itu pun berlalu.

Setelah itu, perpisahan pun menjadi momen yang akan menguras air mata. “Tradisi” lainnya, yaitu memberi bingkisan perpisahan atau pun sebagai ungkapan rasa terima kasih, dalam berbagai bentuk. Dan dari sekian banyak, ada satu bingkisan yang begitu menginspirasi, yaitu buku karya Munif Chotib, yang berjudul Sekolahnya Manusia, buku bingkisan dari FBI XII IPA A. ^_^

Karena buku itulah, aku semakin paham, bahwa kedekatan hubungan emosional antara guru dengan siswa, menjadi salah satu kunci memaksimalkan potensi siswa. Terima kasih atas itu. Terima kasih atas semuanya. Maaf, tidak semua cerita dengan tokoh-tokoh lain yang jelas begitu luar biasa, bisa tertuang karena keterbatasan waktu dan kata-kata. Namun satu hal yang pasti, eksistensi FBI jelas telah memberi begitu banyak makna pada aku.

Dengan bercanda, kita bisa semakin kaya usia. Dengan diskusi, kita bisa semakin kaya ilmu. Dengan berdebat, kita bisa semakin kaya sudut pandang. Dan dengan bersitegang, kita semakin kaya jiwa. Semua itu menjadi proses pendewasaan sikap kita.

Itulah penggalan kisah bersama kalian, para manusia yang mampu melampaui batas ketidakmungkinan. Selamat mewarnai hidup! Teruslah semangat dan saling mendoakan! ^_^

TEKS ANEKDOT

A.        Contoh Teks Anekdot Sekali Pakai   Seorang warga Samarinda yang berprofesi sebagai sopir travel bandara, diajak ngobrol pe...